Monday, September 4, 2017

Ka Lambang Hati Fa



Karya : Aisyah Haura Dika Alsa
Fa

Hari itu, aku baru saja p­ulang dari kampus. Turun dari angkutan umum, bergegas lari mengejar rumahku yang tak bisa melarikan diri. Sepanjang gang, perutku sudah tidak sabar mem­bayangkan masakan ibu hari ini. Tadi di kampus, aku tidak sem­pat jajan apapun. Jadwal kuliah dan kegiatan di komunitas begitu padat, membuatku harus pulang pukul tiga sore. Kupikir, daripa­da jajan atau makan di luarlebih baik langsung pulang saja. Aku ingat tadi pagi ibu berpesan, ibu akan masak udang sambal kesu­kaanku. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa menahan air liur.

Setiba di rumah, aku berge­gas ke dapur. Membuka lemari makan, mengambil piring dan men­cium sedapnya aroma udang sambal, ditambah lagi dengan sayur bening. Air liurku ma­kin tak tertahankan. Tak lupa air hangat kesukaanku seperti bi­asa. Ah, iya, aku akan merasa mual jika minum air biasa. En­tahlah, aku juga tidak tahu meng­apa bisa begitu. Sebaiknya, aku bergegas makan daripada me­mi­kirkan hal lain. Perutku sudah begitu baik sebab sudah mau to­leransi terhadap jadwalku yang penuh.
Hm... Ini enak sekali. Setelah kurasa perutku sudah membaik, aku mencari ibu ke kamarnya. Untuk mengucapkan terima ka­sih karena selalu bisa menghi­dang makanan lezat dan bergizi. Membuatku akan merasa sa­yang jika makan di luar rumah. Ah, ibu. Kenapa tidak membuka rumah makan saja. Masakan ibu benar-benar enak sekali.

“Ibu... Assalamu’alaykum.. Tok.. Tok.. Tok..” Aku menge­tuk pintu kamar ibu sambil juga mengeluarkan bunyi tok-tok dari mulutku sendiri.

“Ibu...., Fa boleh masuk, nggak? Ibu lagi bobo siang ya?”

“Ibu... Lagi ngapain sih? Fa kangen sama Ibu nihhhh. Tahu nggak, entah kenapa tadi di kampus, Fa memikirkan ibu te­rus. Fa berpikir, Ibu sedang apa ya di kantor. Ibu nggak capek apa ya, habis pulang ngantor lang­sung masak. Huh.. Fa saja rasanya lelah sekali.” Kataku mencoba menggoda ibu.
Kalau tidak ada sahutan be­gini, pasti ibu mengerjaiku. Aku masuk saja dan ternyata pintu­nya tidak dikunci. Aku langsung rebahan di kasur ibu. Bajuku bahkan belum diganti. Aku bangkit dari kasur, ternyata ibu tidak ada di kamarnya. Mungkin ibu ada di ruang sholat. Biasa­nya, kan ibu memang lebih se­ring di ruang sholat ketimbang di kamarnya sendiri.

Nah kan, benar! Ibu ada di ru­ang sholat. Eh, ibu sedang tidur ya?

“Ya ampun Ibu. Baca Al-Quran sampai ketiduran begi­ni.”Aku duduk di samping ibu.
Beberapa detik terdiam.

“Ibu terima kasih ya.. Udang sambalnya. Selalu enak..” Aku menoleh ke wajah ibu.
“...................”
“Bu, Fa rindu sekali pada Ka. Kita menyusul Ka ke sana yuk. Sekalian umroh, Bu.
“....................”
“Bu.. begini ya rasanya jatuh cinta? Apa dulu Ibu merasakan ini juga saat baru-baru menikah dengan ayah?”
“....................”

Aku membuang napas.. Wa­jah Ka dan wajah ayah yang se­puluh tahun ini tak pernah kupan­dang lagi membuat gambar di otakku. Mungkin, ayah sudah sa­ngat bahagia di sana. Lebih de­kat dengan Sang Pencinta. Rasanya, aku bertambah sesak. Sebab, tidak hanya rindu pada Ka saja. Tiba-tiba, aku jadi sa­ngat merindukan ayah.

Aku tertidur di samping ibu dan bermimpi, ibu memeluk ayah dan menyatakan rindu ke­pada ayah di depanku. Ssaat aku terbangun, ibu sudah tidak ba­ngun lagi. Selamanya.
* * *
Ka

Nomor Fa susah sekali dihu­bungi. Aku juga tidak tahu me­ngapa menjadi khawatir sekali seperti ini pada Fa. Padahal se­jam lalu, Fa baru saja mengirim gambar udang sambal kesuka­an­nya yang dimasak ibu. Seju­jurnya, aku juga menahan air liur melihat gambar yang dikirim Fa. Bagaimana tidak, sudah sembi­lan bulan, aku tidak menikmati ma­sakan rumah. Tugas akhir ini membuatku tidak bisa sedikit­pun berjalan-jalan ke rumah ma­kan Indonesia. Sekedar untuk menggugurkan rindu yang be­nar-benar deru.

Sembilan bulan ini juga, Fa yang meruntuhkan rindu lidahku ini dengan mengirim masakan-ma­sakan ibu ataupun masakan­nya. Sebenarnya, Fa tidak be­nar-benar meruntuhkan rinduku. Fa hanya berpura-pura ikut iba. Dengan tertawa kecil, Fa akan se­lalu bilang,“Akutidak sedang menjailiKa. Aku tulus kasihan. Tenang saja, kalau pulang nanti, Aku akan masakkan semua ma­kanan kesukaan Ka.”Setelah mengucapkan kalimat itu, Fa akan tertawa terkekeh-kekeh. Fa memang hobi sekali menjaili dan menggoda suaminya yang tak berdaya ini.

Malamnya, tiba-tiba umi me­nelponku. Tidak biasanya. Ini bukan jadwal umi menelpon. Apa umi tiba-tiba sangat merin­dukan anak laki-laki satu-satu­nya ini?Ah, tapi umi bukan tipe yang romantis. Bisa dibilang, umi adalah wanita yang kaku. Ber­beda sekali dengan abi yang begitu senang menggoda; meng­goda umi tentu saja.

Selesai umi menelpon, rasa khawatirku semakin melam­bung tinggi. Perasaan gelisah da­ri tadi ternyata tidak hanya pe­rasaan. Kabar duka itu membu­atku terduduk di sisi kiri kasur. Wa­jah ibu dan Fa memenuhi kepalaku. Beberapa saat, aku meng­hubungi Fa kembali. Fa sama sekali tidak mengangkat telponku. Oh, Fa. Betapa ingin­nya aku mendengar suara­mu. Betapa inginnya aku di sisimu sa­at ini. Kalau saja aku bisa. Aku tidak akan menunggu detik untuk pergi memelukmu.
* * *
Fa menolak bicara pada sia­papun. Sepanjang waktu setelah kepulangan ibu, Fa hanya terus terisak. Tidak mau makan atau­pun minum. Syukurnya, Fa masih mengerjakan kewajiban­nya yang lima waktu. Aku tahu, Fa pasti begitu terpukul. Ini duka yang pasti begitu menyayat jan­tungnya. Fa sering kali bilang,

“Di dunia ini, sebelum Ka ada. Ibulah satu-satunya harta yang aku punya. Setelah Ka ada. Ibu tetap menjadi satu-satunya harta yang aku punya.”

“Yah.... begitu ya?“ Kataku lemah.

“Karena.. Tentu saja, Ka bukan harta. Ka-kan suamiku, gimana sih? Udah jangan cem­berut gitu ah. Jelek tahu!”

Setiap kali mengingat perca­kapan itu, aku selalu tertawa. Kali ini, perih yang merasuki.
Situasi ini, rasanya menya­kitkan sekali. Aku tidak dapat pu­lang ke kampung halaman, untuk duduk di samping istriku lalu memeluknya. Membiarkan ba­hu­ku basah oleh isaknya. Aku be­nar-benar merasa lemah. Sung­guh, sehebat apapun manu­sia, dia tidak akan bisa melaku­kan semuanya. Aku tidak bisa izin untuk tidak masuk kuliah. Meski tabunganku ada untuk me­lakukan perjalanan. Jadwal pu­lang sudah ditentukan setiap tahunnya. Sekitar tiga bulan lagi jadwal rutin mudikku.

Aku hanya bisa menunggu, dan tentu saja menunggu Fa mau berbicara denganku. Aku takut sekali Fa marah karena dia pasti akan merasa sendiri. Aku tahu, hubungan jarak jauh ini ti­dak pernah mudah. Rasanya, aku ingin sekali membawanya kemanapun aku pergi. Iya, aku bisa membawanya pergi. Se­ben­tar lagi.. sebentar lagi kuliah­ku akan selesai. Aku bisa bebas menghabiskan waktuku untuk terus bersamanya.
* * *
Fa masih tidak mau bicara denganku. Sudah hari ketiga. Dulu Fa juga pernah begini, saat dia tiba-tiba merasa cemburu. Fa, harusnya kamu tahu, sehari saja tanpa kamu, aku begitu sulit menjalani hari.
Sebelumnya, aku tidak per­nah seperti ini. Jatuh cinta. Sa­ma sekali tidak pernah. Akhir­nya umi menjodohkanku pada seorang gadis anak teman umi -yang ingin sekali anak perem­puannya segera menikah-. Ya, tentu saja, aku tahu. Ternyata fi­rasat ibu benar. Usia hidupnya di dunia tidak lama lagi. Permin­taan terakhirnya, hanya melihat anak satu-satunya menikah. Oh, ibu, sembilan bulan ini, ibu sudah menjadi mertua terbaik sepan­jang masa. Ibu begitu menya­yangiku. Ibu yang lebih sering menelponku ketimbang umiku sendiri.

Istighfar harus lebih banyak kugalakkan. Agar rasa gelisah ini pergi musnah.
Istriku itu sedang diuji kecin­taannya oleh Allah. Kabar duka ini akan membuatnya semakin mulia di mata Allah jika dia bisa ikhlas melepas ibu tercinta. Ah, aku berusaha menghibur diriku sendiri. Agar tidak terlalu resah menunggu Fa mau bicara de­ngan­ku. Aku percaya, setiap ke­sedihan menyimpan begitu ba­nyak pelajaran.
* * *
Epilog
“Ka...”
“........”
“Ka...”
“.......”
“Ka?!”
“Eh, iya halo..”
“Hoh.. Ini, Fa..”
“Iya, Fa.. Kenapa?”
“Tidak apa-apa..”
“Eh, Fa?! Fa?! Ini, Fa?!”
“Iya...”
“Alhamdulillah... Apa kabar, Sayang? Aku rindu sekali...”

Hubungan jarak jauh ini bu­kan hanya soal jarak 6.728 km. Juga soal waktu. Di sini, sedang waktunya orang tidur dan di tem­pat Fa waktunya orang-orang akan memulai aktivitas pagi hari. Aku benar-benar merasa lega dan bahagia mendengar suara Fa dan lebih bahagianya Fa yang menelponku.
Aku tidak lagi khawatir kare­na kudengar Fa sudah bisa ter­tawa seperti biasanya. Ada satu hal yang semakin membuatku tertawa. Tadi, sebelum Fa me­nelpon, aku sedang menyele­saikan tugas akhir di meja be­lajar, tertidur di sana. Tidak sadar mengangkat telpon. Ternyata se­belum tidur, tanpa kusadari, aku mengambil pena dan men­co­ret-coret kertas. Tulisan, “Ka lambang hati Fa” sudah berse­rak satu halaman. Ah, jatuh cinta ternyata bisa membuatku mela­kukan kebiasaan anak sekolah da­sar. Tidak masalah. Aku jatuh cinta pada yang halal. Selain cinta, pahala juga ikut merona.
(Terbit di Analisa, Minggu, 7 Agustus 2016)

Sunday, September 3, 2017

Skin Care



Karya : Aisyah Haura Dika Alsa

Aku memandangi kalkulator miniku yang berwarna biru. Aku suka dengan bentuknya yang mungil. Mirip telepon genggam pintar hanya saja bentuknya sedikit lebih lebar. Kalkulator ini sebenarnya terpaksa aku beli untuk mata kuliah Statistik. Lebih tepatnya untuk “ujian” mata kuliah Statistik. Jika perkuliahan biasa dibolehkan menggunakan handphone untuk menghitung, tentu saja saat ujian tidak diperkenankan. Dan dosen kami membolehkan jika dengan kalkulator. Dan kalian tahu? Hanya itu satu-satunya mata kuliah yang menghitung. Mata kuliah di jurusanku ialah merangkai kata dengan baik dan benar. Jadi, pasti kami kelimpungan jika tanpa alat bantu hitung.
Baiklah, pasti membingungkan membaca judul dan paragraf pertama tulisanku. Seperti tidak ada korelasinya? Maka dari itu, aku ingin melanjutkan tulisan ini. Agar ia berkorelasi.
Aku masih memandangi kalkulator mini biruku. Aku memang seperti orang yang tidak ada kerjaan. Aku tengah menunggu seorang pelanggan setiaku. Pelanggan? Setia lagi? Mengapa tulisanku kali ini malah banyak menimbulkan pertanyaan?
***

“Jadi, Hilya, kerjanya sekarang begini?” Kata temanku dengan jujurnya. Ekspresinya kutangkap seperti meremehkan pekerjaanku. Dan jujur saja, aku tersinggung. Tapi, adegan ketersinggungan itu tidak kuperlihatkan.
“Penghasilan perbulan alhamdulillah sama seperti penghasilan ngajar sebulan. Cuma bedanya, aku kerja dari rumah aja.” Jawabku sambil nyengir. Maksudku penghasilanku, dari hasil jualan dan menulis di media koran. Dia tentu saja meremehkan pekerjaan jualanku bukan menulisku. Karena, saat itu aku tengah mengantarkan barang jualanku kepada temanku satunya lagi. Tapi, sudahlah. Aku tidak ingin tersinggung lama. Mungkin, mengajar lebih bergengsi menurutnya ketimbang  jualan. Apalagi, memang, saat itu gayaku persis seperti kurir-kurir pengantar barang. Memakai helm merahku dan jaket abangku.
Aku memang memilih bekerja dari dalam rumah. Aku tidak menganggap mengajar itu bukan pekerjaan yang mulia atau tidak baik sehingga saat tamat kuliahku, aku malah memilih untuk tidak mengajar. Tawaran mengajar ada hinggap padaku tapi aku memang belum berkeinginan.
Setelah mengantar barang jualanku kepada teman-temanku dengan menggunakan sepeda motor yang kupinjam dari adik ibuku, aku membeli rujak di sebelah kampusku. Rujak langgananku saat kuliah dahulu. Rujak ini sangat laris manis. Harus tahan antri jika membelinya. Selain karena murah dan buahnya segar. Aku juga senang dengan penjualnya. Seorang ibu muda dengan dua anak yang berjilbab syar’i. Kalian tahu? Dari dialah, aku mencontoh kejujurannya saat berjualan. Dia akan mengatakan buahnya asam jika memang asam. Bahkan pembelinya boleh mencicipi terlebih dahulu. Dia memang ‘hanya’ penjual rujak. Tapi, di mataku. Dia adalah salah satu guruku tentang kejujuran. Aih, harusnya memang, kita tak meremehkan pekerjaan. Apapun itu.
“Apa kegiatannya sekarang, Dek?” tanyanya sambil memotong-motong buah yang kupesan. Tangannya ligat sekali membuatkan pesanan.
“Jualan online, Kak. Kerja di rumah aja.” Jawabku ramah. Aku salut padanya. Selain kejujurannya yang patut ditiru. Ternyata ingatannya juga kuat. Dia masih saja tanda padaku meski wajahku tidak lagi kelihatan.
“Oh iyalah, kerja di rumah. Is, Kakak irilah sebenarnya sama kelen ini. Kakak pun mau nutup wajah kakak. Kadang, ada pembeli (laki-laki) yang nengoki aja. Awak kan udah bersuami. Ga enak juga rasanya. Kalau pakai cadar kan bagus, ketutup muka awak. Nggak jadi fitnah.” Katanya cukup panjang mencurahkan keinginannya.
Sejujurnya, aku terhibur dengan kalimat kakak penjual rujak yang baik hati ini. Mengobati ketersinggungan atas keremehan pekerjaanku tadi. Ya, setiap orang memang memiliki pendapat. Tinggal kita yang ingin tetap memegang kokoh prinsip yang kita punya atau gugur karena hanya omongan orang lain. Itulah memang salah satu alasanku tidak bekerja di luar rumah. Kemungkinan membuka cadar saat bekerja di luar rumah itu lebih besar. Meski memang, aku tidak masalah jika suatu hari nanti aku terpaksa bekerja di luar rumah lalu membuka cadar sebab memang aku menghukuminya sunnah.
“Iya, Kak. Udahlah banyak dosa awak. Tambah lagi dosa karena muka awak. Karena pun perempuan, kalau nggak cantik pun, ketika dia keluar rumah bakal dihiasi sama setan kan, Kak? Pakai cadar ini, insya Allaah, ngurangi dosa awak sikitlah ya kan, Kak..”
“Iya-iya, Dek.. bener itu...” Katanya mengangguk dengan tanda penuh setuju.
Ketika aku masih bisa bekerja di dalam rumah dan dapat membiayai sendiri keperluanku tanpa memusingkan orang tua. Aku tidak boleh goyah saat ada yang meremehkan pekerjaanku. Meski memang, aku tidak pernah berpikir setelah tamat kuliah, aku akan bekerja sebagai pedagang. Karena, dahulu kala, dalam pikiranku, aku sama sekali tidak ada pandai-pandainya berjualan. Apalagi saat merayu orang lain untuk membeli daganganku. Rasanya waktu itu, entah kenapa aku merasa sangat tidak tega. Aih, lucu sekalikan?
Dan saat ini, alhamdulillah belum sebulan aku jualan, produk yang aku jual telah mencapai ratusan barang. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Aku memang percaya dan aku berusaha menjadi hamba yang tawakkal. Sebab, memang rezeki telah diatur sedemikian rupa. Kalau dulu, aku berpikir, bisnis adalah persaingan. Tapi, saat setelah aku lebih mendalami agamaku, bisnis adalah rezeki yang tak akan tertukar. Dahulu saja, ulama bekerja hanya dua jam dalam sehari semalam. Selebihnya menuntut ilmu. Aih, aku jauh sekali dari ulama itu. Dan aku tak ingin risaukan rezekiku karena sebelum nyawaku tercabut, rezekiku telah dijamin –oleh Sang Maha Pemberi Rezeki– akan terus memenuhi hidupku. Yang perlu aku risaukan adalah, surga tak terjamin untukku. Tidak ada yang dapat menjaminkanku surga: tempat gembira yang selamanya.
Lagi-lagi, aku tak ingin merisaukan pekerjaanku. Sebab orang yang paling mulia diantara manusia manapun, yang pernah hidup di dunia ini, pekerjaannya adalah pedagang. Bahkan salah satu perempuan yang paling mulia yang pernah hidup di dunia ini –yang menjadi istrinya– juga pedagang. Kalian sudah pasti bisa menebaknya. Muhammad shalallaahu ‘alaihi wassalam dan Khadijah Radiallahu ‘anha.
Jadi, sekarang, Kalian sudah bisa pahamkan, korelasi dari judul cerita pendekku ini dengan isi ceritanya. Meski tidak menceritakan banyak tentang skin care. Tapi, itulah barang daganganku saat ini. Barang daganganku yang juga kupakai rutin. Sebab, tentu saja, aku ingin terlihat indah di mata lelakiku nanti.
(Penulis adalah Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU)
(Terbit di Medan Pos, 3 September 2017)

Menjadi Titisan Dosen

Karya : Aisyah Haura Dika Alsa

Ada semut-semut merah di layar dan di sela-sela tuts-tuts laptopku. Aku rasa kehadiran mereka disebabkan oleh susu adik sepupuku yang tumpah. Adik sepupuku sangat sulit minum susu. Jadi, agar ibuku –semoga Allah menyayanginya– dapat menyendokkan susu dengan lancar ke mulutnya maka ia harus diajak main game di laptop. Dan tidak jarang, susu dari sendok itu tumpah karena senggolan atau karena adik sepupuku tiba-tiba menolak dan membuang wajahnya dari sendok susu itu.
Baiklah, cukup membicarakan semut-semut merah yang ada di laptopku. Aku takut terdengar mereka dan menjadi tersinggung sebab mereka masih ada disini –di sela-sela tuts-tutsnya–. Sebenarnya, sudah beberapa minggu yang lalu aku ingin menuliskan ini. Menuliskan seseorang, seseorang yang benar-benar layak digugu dan ditiru. Ketika ia mengajar, ia tak sekadar memindahkan harumnya ilmu yang ada di kepalanya menuju kepala mahasiswa-mahasiswanya. Namun, ia juga dapat membuat kebaikan akhlaknya benar-benar ditiru oleh mahasiswanya. Yah, tentu saja ia seorang dosen.
   Jari-jariku hening sejenak, sepasang mataku menatap layar laptop yang ternyata telah tersusun di sana dua alinea. Lalu, aku mencari-cari kenangan dalam kepalaku. Di sana, aku melihat sosok wajah itu dan aku menjadi haru mengingatnya. Wajah itu, wajah yang ketika bertemu aku, melebarkan senyumnya dengan semringah dan menyapa namaku ceria. Tidak, ia tidak pernah menspesialkan aku. Ia tidak hanya mengingat namaku. Tapi, ia juga mengingat nama teman-temanku. Bahkan nama teman satu kelasku. Mungkin juga kelas-kelas lainnya. Aku tidak heran jika ‘guru’ mengingat seluruh nama anak-anak didiknya, apalagi seorang wali kelas. Tapi, baru ia satu-satunya dosen yang kutahu, yang berusaha mengingat semua nama mahasiswanya. “Iya, ibu sedang berusaha mengingat nama kalian semua.” Begitu katanya tulus waktu itu. Dan aku. Syahdu mendengar kalimatnya barusan.
Sebenarnya, ketika ia mengingat namaku. Tentu saja aku merasa senang namun...itu tidak spesial. Ya, aku katakan itu jujur. Karena rata-rata dosen yang masuk ke kelas, mengingat nama dan wajahku. Sekarang, jangan pusatkan padaku. Alihkan pada teman-temanku yang tidak aktif di kelas atau hanya sesekali saja memberanikan diri untuk berbicara dengan dosen di dalam kelas. Kuyakin, alangkah senang hati teman-temanku itu. Itu pasti terasa sangat spesial dan membuat mereka percaya diri untuk turut andil dalam pengajaran mata kuliah di kelas. Dan itu memang terbukti. Ketika ada game yang diadakan oleh dosenku –semoga Allah menyayanginya– maka yang memenangkan game mata kuliah itu adalah teman-teman yang tidak disangka-sangka. Sedang aku? Aku bahkan sedikit pun tidak membaca catatan binder mata kuliah itu sebagai persiapan. Karena waktu itu, aku kelelahan sebab sedang sibuk-sibuknya di organisasi. Aih, aku menjadi mahasiswa yang lupa tujuan utamanya di kampus biru itu.
Aku kembali mengamati tuts-tuts laptopku yang berwarna hitam sedang huruf-hurufnya diwarnai dengan warna lawannya yakni warna putih. Tidak lagi kutemukan di sana semut-semut merah itu. Kemana perginya mereka? Apa jangan-jangan mereka membuat kemah di bagian dalam laptopku? Mungkin, laptopku terasa manis bagi mereka hingga betah berlama di sana.
Aku membuang pandang dari laptopku menuju jendela kamar yang telah ditamui pagi. Dan aku bersyukur pagi ini, matahari yang baik hati masih terbit dari arah Timur. Tiba-tiba, aku ngeri membayangkan diriku jika melihat matahari terbit dari arah Barat. Yang akan terjadi sebelum nanti alam semesta akan memasuki halaman terakhir. Aku memanjatkan doa, semoga aku dan dosenku –semoga Allah menyayanginya– memasuki halaman terakhir masing-masing dengan ‘happy ending’ atau husnul khatimah.
***
Sudah satu tahun masa-masa PPL di sekolah hijau itu terlalui. Tapi, pesan masuk di pesan facebookku masih ramai dengan chat dari murid-murid PPL sekolah hijau itu. Mereka masih sering kali menanyakan kabarku. Dan beberapa minggu yang lalu mendesakku dengan sedikit memaksa untuk main ke rumah. Mereka rindu sekali katanya dan menginginkanku untuk berkunjung ke sekolah hijau sana. Aku bukan tidak ingin mereka bermain ke rumahku sini. Aku hanya memikirkan jarak yang cukup jauh dari sekolah hijau itu menuju rumahku. Bagaimana pun, mereka masih remaja tanggung yang satu tahun lebih muda dibanding adik kandungku.  
Karena terus didesak oleh mereka maka aku mengadakan pertemuan sebagai perayaan rindu satu tahun tidak bertemu. Juga karena atas saran dari adik kelas fakultasku, yang juga PPL di sana. Aku menjadi merasa tidak enak dengan adik kelasku itu. Karena, aku memperkenalkannya pada murid-murid PPLku lewat chat di facebook. Habislah ia diserbu oleh murid-murid PPLku. Tentu saja, penyerbuan itu tidak pernah kusangka dan adik kelasku juga merasa takjub dengan keberanian mereka menghampirinya yang padahal bukan guru PPL mereka. Karena adik kelasku itu, mengajar di aliyah(SMA) sedang aku dulu mengajar di tsanawiyah (SMP). Murid-murid PPLku mendesak mengajak adik kelasku itu untuk berkunjung ke rumahku. Ah, begitu rindunya mereka padaku?
Aku sungguh tidak menyangka mereka masih ingin bertemu dan mengatakan rindu. Apakah aku sebegitu mengesankannya bagi mereka? Aku mengingat-ingat, apa yang telah kulakukan dahulu pada mereka? Aku mengajar hanya biasa-biasa saja. Jarang membuat game. Karena aku memang tidak suka pembelajaran itu dengan game. Aku lebih senang guru atau aku menjelaskan dan aku atau murid-muridku mendengarkan. Metode belajar kuno. Tapi aku menyukainya. Aku juga sering marah-marah kalau mereka mulai aktif bersuara tidak sewajarnya saat pembelajaran. Meski, memang, aku sering bercerita kisah bermanfaat pada mereka. Ah, tapi itu hal yang tidak begitu spesial sepertinya,
Aku mengingat sesuatu. Ya, sesuatu. “Ibu kenapa bisa hafal nama kami semuanya?” Celetuk salah satu murid PPLku satu tahun lalu. Aku terkesiap. Hening tiba-tiba. Aku mengingat sesuatu yang tidak sengaja kulupakan. Aku memang bukan dosen. Bukan juga guru ‘sebenarnya’. Hanya guru PPL selama tiga bulan di sekolah hijau itu. Tapi, aku berusaha mencontoh apa yang dilakukan dosenku –semoga Allah menyayanginya–.
Sedari awal PPL, aku memang ingin mengingat semua nama muridku di kelas tanpa terkecuali. Tidak peduli ia aktif atau tidak dikelas. Tidak peduli ia pintar atau tidak. Memperlakukan mereka sama rata. Sangat berusaha untuk tidak berpilih kasih. Seperti yang telah dicontohkan oleh dosenku. Aku pikir, hal itulah yang membuat mereka begitu setia merinduiku. Begitu berkesan. Karena tidak hanya satu-dua yang masih meramaikan pesan masuk di facebookku. Tapi banyak.
Aku mengingat hari-hari akhir bersama mereka. Mereka begitu ringan tangan memberiku banyak hadiah dan itu hadiah-hadiah pribadi dari mereka. Hadiah kerudung, boneka, hiasan bunga, bahkan aku mendapatkan mpek-mpek dari salah satu mereka, makanan khas sukuku dan tentu saja kesukaanku. Dan hadiah yang paling lucu tapi yang paling berguna menurutku adalah hadiah balsem yang bentuknya langsing dan aromanya harum. Dan itu kupakai sampai tak tersisa. Lucu? Iya, mereka memang lucu-lucu. Dan rindu memenuhi kamarku. Semoga sampai kepada mereka lewat hantaran angin, kepada mereka yang saat ini tengah belajar di sekolah hijau itu.   
(Penulis adalah Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU)  
(Terbit di Medan Pos, 27 Agustus 2017) 

Friday, July 21, 2017

Manisnya Kain Penutup Wajahnya



Karya : Aisyah Haura Dika Alsa


Perkuliahan telah selesai. Namun hujan di luar belum juga usai. Aku harus menunda waktu untuk pulang. Aku kelupaan membawa jas hujan. Padahal yahhh, baru saja siang kemarin aku jemur. Namun malah lupa mengangkatnya. Kalau di daerah rumahku hujan juga. Pasti jas hujannya kembali basah.
“Hujannya lama bener ya, Sya berhentinya. Musim hujan gini payah juga mau bergerak.” Piya, teman satu kelasku ternyata juga sedang menunggu reda hujan di depan kelas. Ikut berdiri dan menempelkan tubuh di dinding koridor gedung lantai dua. Aku tidak sadar Piya berdiri di sana. Berarti aku terlalu asyik melamunkan si jas hujan.
“Hus, nggak boleh ngomong begitu, Pi. Hujan itu rahmat dari Allah, nggak boleh dicela. Bayangkan nanti sebelum keluar Dajjal, bumi ini mengalami kekeringan selama tiga tahun. Stok hujan menipis bahkan ditahun ketiganya nanti sama sekali nggak ada hujan. Subhanallah, bayanginnya aja aku udah ngeri, Pi.”Aku bergidik sendiri atas omonganku barusan.
“Eh, iya, Sya. Astaghfirullah. Maaf. Nggak lagi deh.” Raut wajah Piya ikut membayang ngeri.
“Hujan deras gini kan mantep kalau kita doa, Pi. Kamu kan udah pengen banget nikah tuh. Nah, ini ajang yang pas buat doa.” Aku menggoda Piya untuk meruntuhkan raut wajahnya yang merasa bersalah.
“Hehe.. Kamu, Sya. Godain mulu. Oh iya, Sya. Aku lupa nyampeinnya kemarin. Kamu dapat salam lagi tuh dari abang senior. Bang Haris. Tahukan?”
“Bang Haris?Yang ketua organisasi itu ya?”
“Hu’um..” Piya mengangguk mengiyakan.
Seketika tubuhku lemas. Dan Piya menyadari raut wajahku yang berubah murung.
“Aku salah lagi ya, Sya..?” Piya hati-hati bertanya, memandang wajahku, yang malah memandang hujan yang masih senang luruh ke tanah.
“Piya, jawab jujur ya. Harus jujur pokoknya!” Pintaku serius pada Piya.
“Eh, mau tanya apa emang, Sya? Serius bener.” Piya malah kaget dengan permintaanku.
“Jawab jujur aja pokoknya, Pi.. Menurut kamu, aku ini kecentilan ya?” Kali ini, aku tidak lagi memandangi hujan, sepasang mataku kuarahkan tepat ke arah sepasang mata Piya. Piya malah mengerutkan keningnya. Dua detik kemudian tawanya lepas tanpa rasa bersalah. Membuatku sekarang yang gantian mengerutkan kening. Piya masih dengan tertawanya.
“Terus aja ketawa.” Aku membuang wajah dari tubuh Piya yang berdiri di samping kananku. Piya memberhentikan tawanya. Menyisakan sedikit kegelian di wajahnya.
“Hehe..maaf.. maaff.. Lagian, kamu ini, pertanyaannya kok tiba-tiba begitu? Kecentilan dari mana coba? Lah, kamu aja dijuluki ratu cuek di kelas hahaha..” Piya mengembalikan tawanya yang sempat diredamnya.
“Jadi.. “ Aku menahan suaraku…
“Jadi apanya, Sya? Kamu ini kenapa sih?” Piya masih menatapku dengan tawanya. Hoo, kalau tidak ingat, dia ini anak yang baik sekali sebenarnya, sudah aku tinggal pergi dari tawa pertamanya tadi. Aku kan serius bertanya. Kenapa dia malah asyik dengan tawanya.
***

Bulan sempurna di atas sana dengan lingkar purnama. Gulitanya langit membuatnya semakin istimewa dipandang. Hujan siang tadi ternyata tidak membekas pada ini malam. Malam ini, bintang dan bulan bertengger merona, membuatnya betah menatapnya. Gorden jendela kamarku, kubiarkan terbuka setengah. Aku masih ingin menatap benderang purnama. Meski jam dinding, jarum pendeknya hampir sampai tengah malam. Sebenarnya, aku masih kepikiran dengan jawaban dari Piya atas pertanyaaku siang tadi.
“Kamu itu jauh dari kata centil, Sya. Teman laki-laki di kelas aja, itu kadang rasanya pengen nimpuk kepala kamu pakai buku sangkin gemesnya sama kecuekanmu. Karena rasa segan mereka yang besar padamu jadi mereka nggak berani deh hehe..Nah, kamu itu pintar, Sya, aktif di kelas. Banyak dosen sayang sama kamu meski ya ada beberapa yang kayaknya nggak suka sama kritisnya kamu. Itu hal yang wajarlah. Saat kita semester satu aja, kamu udah jadi bahan gossip eh hehe maksudnya bahan perbincangan dosen-dosen dan kakak-kakak jurusan karena berhasil juara pertama lomba debat antar mahasiswa se kota kita ini. Belum lagi setelahnya, kamu banyak menangin lomba. Dan yang paling sesuatu, your face, Sya.” Aku menghembuskan kembali napasku yang berat ketika mengingat Piya menyebutkan kalimat terakhirnya.
Piya sudah jujur menjawab pertanyaanku siang tadi. Pertanyaanku muncul begitu pada Piya karena sudah berulang kali Piya menyampaikan salam yang entah dari siapa saja. Aku akan senang jika mendapat salam dari teman perempuan. Tapi, semua yang disampaikan Piya adalah salam dari laki-laki, entah itu teman satu angkatan yang beda kelas atau kakak-kakak tingkat bahkan beda jurusan.
Selama ini, aku sudah sangat berusaha pikirku. Itulah kenapa aku memilih cuek pada teman laki-laki di kelasku. Meski terkadang, aku merasa tidak tega juga. Tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah pernah merasakan tidak enaknya punya banyak fans di sekolahan dulu. Dan itu sama sekali membuatku risih. Menurutku, aku benci sekali ketika ada laki-laki yang menyanjung-nyanjung wajahku. Aku merasa, diriku menjadi rendah sekali. Apalagi jika ada laki-laki yang berusaha mendekatiku, aku makin merasa diriku seperti murah. Untuk itulah, seberusaha mungkin aku menjaga jarak, jarang keluar rumah jika tidak ada hal yang penting dan mendesak, dan tentu saja menghindarkan diri untuk masuk ke komunitas atau organisasi yang ada laki-lakinya.
Aku sudah lelah sebenarnya. Tapi, aku tidak bisa menyalahkan wajahku. Ini murni ciptaan Tuhanku. Jika aku marah, berarti aku mencela ciptaanNya, itu berarti aku tidak tahu bersyukur. Hingga aku melihat seorang temanku, Salma. Beberapa hari ini, ia telah menutup wajahnya. Hanya sepasang matanya yang kelihatan. Salma bahkan tidak gentar meski dosen menyindir-nyindirnya saat di kelas, belum lagi teman-teman yang meski bercanda, mengolok-ngolok kain di wajahnya.
“Salma, Masya Allah, aku senang dengan perubahan kamu ini. Apa yang membuat kamu ingin memakainya, Ma?” Tanyaku pada Salma saat pertama kali Salma mengenakan sebuah cadar di wajahnya.
“Alhamdulillah, semua atas hidayah dari Allah, Sya. Aku tahu wajahku biasa-biasa saja, tapi aku tidak ingin menjadi fitnah di mata lelaki yang bukan mahromku. Karena, ketika perempuan keluar dari rumahnya, setan akan menghiasinya sehingga tampak semakin indah di mata lelaki. Dan menurutku, menutup aurat yang wajib saja tidak cukup.” Aku mematung mendengar penuturan Salma.
“Manisya, wajah kamu itu jauhhh lebih cantik daripada wajahku. Boleh jadi, fitnahnya semakin besar dan kamu lebih dianjurkan memakainya. Semoga kamu juga bisa pakai suatu hari ya. Aku pamit ya, aku harus pulang segera nih. Assalamu’alaykum..” Kalimat Salma di atas lebih menohok jantungku. Aku terdiam lama saat itu. Benar-benar sangat lama. Dan sampai hari ini, kalimat itu masih menghiasi hari-hariku. Saat makan, saat mau tidur, atau saat aku tidak sedang sibuk beraktifitas, kalimat Salma mengiang-ngiang di kepalaku.
Malam ini juga, aku harus bilang pada ibu dan ayah. Aku harus mengatakan kerisihanku selama ini. Aku harus berani bicara terus terang pada ibu dan ayah. Semoga ayah dan ibu belum tidur. Aku mengetuk pintu kamar mereka. Ternyata, benar, mereka masih terjaga meski sudah tengah malam.
***
Pagi ini, aku tidak peduli dengan apapun yang akan dikatakan orang-orang. Aku tidak akan dan ingin peduli. Dengan bismillah dan ridho orang tua, aku berangkat dengan selembar kain tebal tetapi sejuk dan ringan di wajahku bagian depan dan selembar kain tipisnya yang lain berada di belakang tubuhku, lebih pendek dari khimar yang aku pakai.
Dan pagi ini, aku berangkat ke luar rumah menuju kampus dengan hanya memperlihatkan sepasang mataku. Sudah aku katakan, aku tidak akan dan ingin peduli pada omongan orang-orang. Karena dengan selembar kain ini, akan lebih memuliakan perempuan muslimah siapapun, termasuk aku.
(Penulis adalah alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU)
(Terbit di Medan Pos, 16 Juli 2017)
Judul Asli : Manisya dan Selembar Kain di Wajahnya